Diposting oleh Marco Regusta | 0 komentar

Kenangan Musim Panas


Mentari pagi disertai angin sepoi-sepoi bertiup menghangatkan tubuhku. Kabut putih menutupi gunung-gunung, daun-daunan basah oleh tetesan embun pagi yang berkilau hingga seekor belalang pun enggan untuk mendekatinya. Bunga teratai pun ikut bermekaran memenuhi danau di samping pohon tempatku biasa duduk bersantai memandangi langit. "Wah, sungguh musim panas yang indah" pikirku.

“Shiro, kau masih belum siap-siap? Apa kau lupa jadwalmu hari ini?” teriak mama.

 “Iya ma, tentu saja aku tidak lupa. Aku akan turun sebentar lagi!” jawab Shiro.

“Cepatlah! Kau akan ketinggalan kereta.”

“Sebentar ma, sabar sedikit.”

Teriakan mamaku membangunkanku dari mimpi indahku pagi ini. Liburan musim panasku baru saja dimulai. Aku sungguh merasakan mukjizat datang padaku tahun ini, aku sempat berpikir mungkin aku tidak akan lulus tahun ini dan harus ikut kelas musim panas karena nilaiku yang anjlok tahun ini. Aku tidak menyangka akan bisa menikmati liburan musim panasku tahun ini setelah ikut kelas tambahan musim panas tahun lalu. Hari ini aku akan pergi ke kampung halamanku, tepatnya kediaman pamanku saat ini. Aku pun bergegas pergi, mengmbil tas hitamku dan segera memakai sepatuku.

“Dengarkan nasehat pamanmu loh, jangan lupa membawa jaket, sapu tangan, dan tiketmu” kata mama.

“Jangan khawatir, semua sudah kusiapkan” balasku.

“Jangan sampai tasmu ketinggalan dan jangan sampai melamun hingga kelewatan stasiun” kata mama.

“Ya ampun ma, tak perlu khawatir begitu, aku bukan anak kecil yang harus diingatkan terus, lagipula hampir setiap tahun aku kesana.”

Aku berjalan menuju stasiun, disepanjang perjalanan kupandangi langit musim panas. Dimana- mana kutemui pohon- pohon yang hijau, udara yang segar, serta kicauan merdu burung. Di stasiun aku menunggu selama beberapa menit hingga akhirnya kereta tiba disana. Aku sangat senang  pergi kerumah pamanku. Berbeda dengan perkotaan, disana tidak ada asap yang mengepul dan suara bising kendaraan. Melainkan aku bisa mendengar suara tetesan embun di pagi hari dan suara air sungai yang mengalir. Terkadang aku bahkan lupa untuk bangun di pagi hari karena ketenangan itu. 

Ketika tiba di rumah pamanku, dia menyambutku dengan gembira. Segala macam makanan dan hiasan kesukaanku telah disiapkan olehnya  untuk menyambut kedatanganku. Suasana disana masih sama seperti sebelumnya, aku masih ingat terakhir kali ketika aku datang kesini aku terjatuh di sawah pamanku dan menjerit dengan keras. Aku bahkan sampai menghebohkan satu desa dengan suara jeritanku itu.

***

Saat aku berusia 6 tahun, aku berlibur ke rumah pamanku. Aku pernah tersesat di sebuah hutan Gami yang konon katanya adalah tempat para dewa bertapa dan kadang menetap disana. Setelah lama kesulitan mencari jalan keluar, aku pun kelelahan dan akhirnya aku menyerah dan menangis ketakutan. Tiba- tiba datang seorang lelaki muda berpostur tubuh yang tinggi, dengan topeng di wajahnya, dengan rambutnya yang abu- abu, dan baju putih yang bermotif bunga-bunga.

“Hei anak kecil, kenapa kau menangis?” katanya.

Aku kaget mendengar suara orang memanggilku dan ketika melihat dia aku pun berlari kearahnya untuk meminta pertolongan. Aku berlari kencang kearahnya dan ingin memeluknya, bukannya menolongku dia malah menghindariku. Aku terjatuh keatas semak-semak, rambutku acak- acakkan, dan mukau jadi kusut. Aku pun merasa heran kenapa kakak itu tidak menolongku dan membiarkanku terjatuh.

“Maafkan aku, kau ini anak manusia kan? Jangan menyentuhku, aku akan menghilang jika manusia menyentuhku” katanya.

“Manusia? Memangnya kakak ini bukan manusia?” tanyaku bingung.

“Bukan. Aku seorang youkai (sebutan orang jepang untuk siluman)” jawabnya.

“Benarkah itu, jadi youkai itu memang benar- benar ada? Bukankah itu hanya sekedar mitos?”

“Terserah kau mau percaya atau tidak. Tak ada untungnya bagiku memberitahu mu anak kecil.”

Lalu aku pun berlari kencang kearahnya untuk mencoba menyentuhnya berkali- kali dan menghilangkan keraguanku, tapi ia terus menghindar. Lalu ia mengetuk kepalaku dengan sebatang ranting pohon yang baru saja dipetiknya.

“Ah, itu menyakitkan kak. Apa kakak tidak punya rasa kasihan?”

“Sudah kubilang jika kau menyentuhku aku akan menghilang, menghilang berarti lenyap. Memangnya kau tak mengerti bahasaku?”

“Tapi kenapa?”

“Tidak ada gunanya bagiku memberitahumu sekarang. Kau tidak akan mengerti.”

Kemudian ia mengulurkan ranting pohon yang dipegangnya utnuk mengantarku keluar dari hutan tersebut. Kami pun berjalan bersama, aku mengikutinya dari belakang dengan memegang ranting pohon tersebut. Begitu banyak patung- patung tua disana, dan juga aku merasakan banyak aura yang aneh disana. Begitu banyak yang ingin kutanyakan padanya, aku masih merasa seperti sedang bermimpi. Aku terus menampar wajahku secara diam-diam saat dia tidak melihat ke arahku. Tapi kemudian aku sadar bahwa ini sungguh terjadi. Namun aku sadar bahwa ia terlihat tidak ingin bercerita tentang dirinya, karena itu aku hanya diam agar tidak menganggunya.

“Kakak selalu berada disini kan? Aku ingin kembali lagi kesini bertemu dengan kakak” kataku.

“Ini adalah hutannya para Gami, hutannya para Dewa. Jika kau menginjakkan kakimu disini kau akan tersesat, jadi jangan kembali lagi kesini” katanya. “Namaku Shiina Mashiro. Siapa nama kakak?”

 “Gin. Namaku Gin.”

“Nama yang unik.”

Lalu aku pun pergi dari sana, saat aku kembali melihat kebelakang, dia sudah menghilang. Aku pun terus berjalan dan akhirnya bertemu dengan pamanku.

“Hei Shiro, dasar anak bendel! Kenapa kau berkeliaran di hutan seperti ini? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu” kata paman.

“Maafkan aku paman, aku hanya ingin berjalan- jalan mencari udara segar.”

Kemudian kami pun berjalan pulang, aku bertanya pada paman tentang youkai. Paman pun menceritakan masa lalunya dan pengalamannya selama tinggal di desa ini. Malamnya aku kesulitan untuk tidur, aku terus memandangi langit- langit kamarku dan memikirkan kejadian tadi. Esok paginya aku kembali kesana dan betapa senangnya aku melihat bahwa dia sudah menungguku di depan gerbang hutan itu. Sudah kuduga ia tak sejahat perkataannya. Kami pun berjalan bersama, bermain bersama, berlari-lari di gunung. Akhirnya aku pun pergi kesana setiap hari.

Saat itu adalah liburan musim panasku, hutan itu begitu indah dengan bunga yang berwarna- warni, sungai yang dipenuhi teratai, dan hamparan hijau dimana-mana. 

Suatu kali kami sedang bersantai bersama dengan berbaring di hamparan hijau memandangi langit biru, tiba- tiba ia tertidur. Kupandangi dia dengan topengnya itu, aku sungguh penasaran dengan wajah aslinya hingga aku melepas topengnya secara diam- diam. Ternyata yang kulihat tidak lah seperti yang ada di bayanganku, aku pikir karena dia adalah seorangyoukai mungkin saja wajahnya akan seperti siluman. Tetapi yang kulihat malah wajahnya yang normal seperti manusia biasa. Ia sangat tampan dengan matanya yang kecil dan elips, alisnya yang tipis abu- abu, dan wajahnya yang oval dan dingin seperti butiran salju, serta hidungnya yang mancung dan kecil.

Tiba- tiba ia terbangun dari tidurnya dan aku pun kaget karena kepergok melihat wajahnya secara diam- diam dan aku refleks menutup kembali topengnya dengan keras. Ia merintih kesakitan.

“Apa yang kau lakukan? Mengintip wajah orang ketika tidur? Sebegitu penasarankah kau dengan diriku?”

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud...”

“Bagaimana wajahku? Apakah ada yang aneh?”

“Kau terlihat seperti manusia normal. Lalu kenapa kau memakai topeng itu?”

“Jika aku tidak memakai topeng ini, aku tidak terlihat sperti youkai bukan?”

“Iya itu benar. Jadi kau takut manusia salah mengenalimu.”

“Ya begitulah, kau cepat juga mengerti.” Liburan musim panasku hampir berakhir, aku pun mengucapkan salam perpisahan dengannya.

“Tahun depan kau akan kesini lagi?” tanyanya.

“Ya tentu saja aku akan kesini untuk bertemu kakak” jawabku.

Itulah yang membuat musim panas menjadi saat yang paling aku nantikan. Setelah musim panas itu, aku selalu kembali kesana setiap musim panas ketika ada kesempatan.

***
Sekarang aku sudah SMP dan aku kembali lagi kesana. Aku mengenakan seragam SMP ku kesana hanya untuk menunjukkan padanya seragam baruku dan menunjukkan bahwa aku sudah bertambah besar. Waktu semakin berlalu, aku sudah semakin dewasa tapi Gin tetap terlihat sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Menurutku, mungkin usia youkai berjalan lebih lambat. Aku pun bertanya padanya mengapa ia tidak bertambah tua, dan ternyata pemikiranku memang benar. Sejenak aku merasa sedih karena berpikir suatu saat aku akan terlihat lebih tua darinya. Tapi aku mencoba melupakan hal itu.

“Kau masih terlihat sama seperti pertama kita bertemu, aku juga sudah merasa terbiasa bermain denganmu setiap tahun, kurasa aku menyukaimu.”

“Ya kau benar, aku juga menyukai diriku sendiri.”

Kemudian aku pulang ke rumah pamanku, pamanku bercerita tentang perbedaan suhu musim panas dan musim dingin disana. Paman bercerita bahwa musim panas yang sangat panas akan diikuti dengan musim dingin yang sangat dingin. Karena itulah aku berpikir membuatkan sebuah syal untuknya. Waktu semakin berlalu, sekarang aku sudah SMA dan aku kembali lagi kesana. Lagi- lagi aku memakai seragam baruku untuk kutunjukkan padanya, dan Gin masih terlihat sama seperti saat pertama kami bertemu. 

Suatu kali, kami duduk ditepi sungai, dia bercerita tentang dirinya. Dia mengatakan bahwa dia dulu adalah seorang manusia, namun ia ditinggalkan oleh orang tuanya didalam hutan sendirian saat ia baru dilahirkan. Dia terus menangis hingga para youkai merasa kasihan padanya. Dia sudah hampir mati, namun tiba- tiba dewa gunung datang dan memberikan mantra kepadanya agar tetap hidup. Karena ia hidup oleh mantra, maka tubuhnya sangatlah rapuh. Sehingga ia tidak boleh menyentuh manusia. Oleh karena itulah, Gin masih hidup hingga saat ini.

***

Bunga- bunga bermekaran warna- warni, hamparan hijau dimana- mana, serta senyuman bahagia di wajah semua orang yang lalu lalang menghiasi tempatku berjalan saat ini. Segala macam kebahagiaan biasanya terukir di momen ini. Musim semi sudah dimulai. Sekarang aku akan mendaftar masuk ke universitas. Tapi sebelumnya aku ingin bertemu dengan seseorang. Aku kembali lagi ke hutan itu dan berjumpa dengannya. Suatu hari, ia mengajakku pergi ke sebuah festival yang pernah diceritakan oleh pamanku, yaitu festival musim semi yang diadakan oleh para youkai yang diberi sebutan festival youkai. Festival youkai adalah festival dimana manusia berdandan menyerupai youkai.

“Shiro, apa kau ingin pergi ke festival youkai malam ini?”

"Apa tidak apa bagi seorang youkai pergi kesana? Apa kau tidak takut jika ada yang menyentuhmu?”

“Tenang saja itu tidak akan terjadi. Karena di festival itu selain berdandan menyerupai youkaimereka juga bertingkah seperti youkai, jadi mereka tidak akan sembarang menyentuh.”
“Kedengarannya menarik. Aku ingin kesana.”

“Kalau begitu datanglah kesini jam 8 malam nanti.”

“Ya baiklah.”

Kemudian mereka pun pergi ke festival itu bersama- sama. Suasana festival itu sungguh persis dengan festival seperti festival yang dibuat oleh manusia. Gin mengikatkan sehelai kain pada salah satu lenganku dan salah satu lengannya agar aku tidak tersesat. Aku sempat berpikir ini seperti kencan dan berharap itu benar. Kami melihat permainan kembang api, atraksi sirkus youkai, banyak sekali makanan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku bahkan melihat gula- gula yang bisa terbang ke langit. Aku sungguh senang sekali, dan bahkan berharap waktu akan berhenti meski hanya sebentar.

“Aku menyukaimu Gin” kataku.

“Benarkah? Aku juga menyukai diriku” katanya.

Sejenak aku merasa kecewa dengan jawaban yang sama itu, apakah karena ia seorang youkai hingga tidak bisa peka akan perasaan manusia. Setelah menikmati festival kami pun berjalan pulang. Kami berjalan ke tepi sebuah danau dan duduk di kursi yang ada di sebelah danau itu. Kami berbincang begitu lama. Tiba- tiba Gin berbicara seakan waktunya sudah dekat.

“Aku sudah tidak sabar lagi untuk menunggumu hingga musim panas berikutnya” kata Gin.

“Aku juga selalu tidak sabar menunggu saat- saat bersamamu” balasku.

Lalu Gin melepas topengnya dan memakaikannya ke wajahku dan ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Jantungku berdegup kencang, aku ingin waktu berhenti saat ini juga. Wajahku yang merah tertutup oleh topeng di wajahku. Tiba- tiba datanglah dua orang anak yang berlarian, salah satunya hampir terjatuh dan Gin menarik tangannya agar tidak terjatuh. Betapa terkejutnya aku melihat tangan Gin mulai menghilang sedikit demi sedikit dan berubah menjadi seperti butiran salju dan terbang ke langit.

“Apa yang terjadi? Tadi itu anak manusia? Dan d-dia menyentuh Gin?” tanyaku masih tak percaya.
Sejenak aku masih belum menyadari apa yang sedang terjadi hingga akhirnya aku mengerti tubuhnya mulai ikut menghilang.

“Kemarilah Shiro peluklah aku, akhirnya aku bisa menyentuhmu” kata Gin dengan bahagia.
Lalu aku pun berlari kearahnya dan memeluknya sambil menangis.

“Aku menyukaimu Gin.”

“Ya aku juga menyukai diriku, tapi aku lebih menyukai orang yang menyukaiku.”

Tangisanku pun semakin menjadi- jadi. Tubuhnya semakin hilang tapi aku tetap memeluknya hingga akhirnya aku terjatuh dengan benda yang tersisa hanya pakaian yang dikenakannya dan topeng miliknya. Gin telah menghilang, dia telah lenyap. Aku tidak akan melihatnya lagi. Tiba- tiba bunga- bunga berjatuhan dan memenuhi kepalaku. Musim gugur adalah saat dimana aku dan Gin terpisahkan. Aku terus menangis sambil memeluk topeng Gin. 

Aku terus berpikir mungkin musim panas tidak akan menjadi saat yang paling aku nantikan lagi. Tapi kehangatan di tanganku ini dan kenangan musim panas ini akan terus hidup dalam hatiku. Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi, akan ada kesempatan kedua bagi kami. Jika saja suatu saat aku terlahir kembali, aku ingin kami dipertemukan lagi dengan takdir yang berbeda.

Post Comment

0 komentar: