Takdir yang Memisahkan

Patah hati karena kecemburuan bukanlah patah hati yang paling menyakitkan, karena patah hati disaat kita sedang sayang-sayangnya dengan seseoranglah yang merupakan patah hati yang terhebat. Ketika seseorang yang kita cintai meninggalkan kita tanpa alasan, bagaimanapun semua orang pasti akan merasa depresi dan hal ini tidaklah jarang dialami orang-orang. Namaku Jefry, ini kisahku semasa SMA. Perempuan yang membuatku patah hati bernama Kharen. Saat itu aku sudah dekat dengannya, kami melakukan segala sesuatu secara bersama-sama selama 2 tahun. Kami sering keluar bersama, tertawa bersama, bahkan aku selalu ada disampingnya disaat ia sedang sedih.
Keluarganya pun sudah sangat dekat denganku. Aku begitu mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya. Tapi sayangnya hubungan kami hanya sebatas “Friend-zone”, istilah yang digunakan pada dua orang yang sudah cukup dekat tapi tidak ingin hubungan mereka lebih dari teman. Aku sudah lama sekali memendam rasa ini, aku tidak menyatakan perasaanku karena tidak ingin merusak persahabatan kami saat ini. Aku selalu menahan rasa ini, tapi bagaimanapun juga aku sudah mencapai batasanku untuk bertahan dengan perasaan ini.
Alkisah dimulai pada suatu hari yang cerah disekolah, ini adalah 3 hari sebelum hari ulang tahunnya. Aku bertemu dengannya dihalaman depan sekolah. Saat itu masih musim dingin, cuacanya sungguh dingin dan membuatku merasa semakin resah dengan kondisiku saat ini. Tidak hanya ranting pohon yang berjatuhan, tapi hatiku juga ikut merasakan hal yang sama.
“Hai, Kharen. Selamat Pagi!” Sapaku.
“Oh... Hai Jefry! Apa kabar!” Balas Kharen.
“Aku merasa baik, bahkan sangat baik setelah bertemu denganmu.” Candaku.
“Dasar tukang bohong. Kau pikir aku sudah berapa lama mengenalmu? Aku tau keadaanmu hanya dari matamu. Jangan bohong padaku, aku harap kau tidak menunggu sampai aku memukulmu baru kau akan menceritakan yang sebenarnya!” Kata Kharen dengan ekspresi kesal.
“Iya iya aku tau, kau memang sangat pintar mengenaliku. Nanti akan kuceritakan.” Balasku.
“Dasar tukang bohong. Kau pikir aku sudah berapa lama mengenalmu? Aku tau keadaanmu hanya dari matamu. Jangan bohong padaku, aku harap kau tidak menunggu sampai aku memukulmu baru kau akan menceritakan yang sebenarnya!” Kata Kharen dengan ekspresi kesal.
“Iya iya aku tau, kau memang sangat pintar mengenaliku. Nanti akan kuceritakan.” Balasku.
Kami pun akhirnya berjalan menuju kelas sambil berbincang-bincang tentang pelajaran. Lonceng tanda masuk pun berbunyi, semuanya masuk ke kelas.
Sahabat sekaligus teman sekelasku bernama Exel, dia sering membuatku tertawa dengan tingkahnya yang aneh namun dia adalah orang bijaksana dan murah hati.
“Bro... Bagaimana hubunganmu dengan Kharen? Apakah baik-baik saja?” tanya Exel padaku yang memulai percakapan.
“Apa maksudmu? Tentu saja hubungan kami baik-baik aja. Memangnya kenapa? Cemburu?” Tanyaku dengan nada menyindir.
“Jelas tidak lah, Aku tidak akan menikung sahabatku sendiri.” Ucap Exel sambil tertawa.
“Ya, kita mana tau nantinya kau akan seperti apa!” Ejekku.
Tidak lama setelah kami saling bercanda, kemudian guru pun masuk dan memulai pelajaran. Dan tidak terasa 2 jam pelajaran sudah berlalu dan lonceng bel istirahat pun berbunyi. Aku dan Exel bersama-sama menuju ke kantin. Di saat menuju ke kantin aku pun bertemu dengan Kharen. Seperti biasanya dengan sifatnya yang ceria dan mudah bergaul dengan banyak orang, dia duduk di kursi kantin sambil berbincang-bincang dengan teman-temannya. Itulah salah satu hal yang kusukai darinya, sifatnya yang ceria selalu membawa kebahagiaan bagi orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia juga sangat peka terhadap lingkungan sekitarnya, walaupun kata-kata yang keluar dari mulutnya itu kasar, tapi aku tahu bahwa dia tidak bermaksud buruk, melainkan demi kebaikan orang lain. Aku bercerita seperti ini bukan berarti aku menyukainya hanya karena sifatnya itu, aku menyukainya apa adanya. Dan yang kuceritakan tadi hanyalah hal yang aku kagumi darinya.
***
Dua hari sudah berlalu sejak hari itu, hingga tibalah hari yang kutunggu. Hari minggu ini adalah hari dimana Kharen, orang yang aku sayangi itu berulang tahun. Semuanya, kue, kejutan, hadiah yang spesial, bahkan teman- teman sebagai undangan sudah kusiapkan dihari sebelumnya. Pada pagi harinya, Aku merasa sangat bersemangat untuk mengawali hari sehingga Aku bangun lebih awal dan menemani ayahku pergi jogging di taman sambil menghirup udara yang segar. Saking bersemangat aku bahkan sudah bermimpi mengenai kejadian yang akan terjadi hari ini. Sungguh mimpi yang indah.
Aku bahkan hampir lupa untuk bernafas. “Aku bisa jadi gila kalau terus memikirkannya” gumamku. Setelah lama kami berjogging di taman, ayahku pun mengajak ku untuk pergi ke gereja setelah sarapan pagi. Semua hal yang kulakukan pada hari itu terasa berbeda dari biasanya karena aku sangat bersemangat dan bahagia untuk merayakan ulang tahun orang yang ku cintai. Tapi entah kenapa aku juga merasakan ketakutan yang besar karena akan ada sesuatu yang terjadi yang akan merubah segalanya. Sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, setiap dia berulang tahun aku selalu mengajaknya makan malam denganku.
"Ren, ntar malam jam tujuh ya, gue tunggu di Restoran Best Ramen Lantai 2. Lo tau kan maksud gue, pasti dong. Jangan telat ya atau aku akan terlihat jomblo berada disana sendirian."
"Okay, gak kebalik ya omongan lo? Bukannya lo yang selalu telat, ujung- ujungya juga gue yang selalu nunggu lo datang."
"Hahaha... tau aja lo… ya udah sampai jumpa nanti ya."
Begitulah isi pesan singkat kami. Berbicara seolah-olah tidak ada perbedaan di antara kami berdua.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 17.44, aku pun segera bersiap-siap untuk bertemu dengannya. Kusisir rambutku yang sudah kuolesi minyak rambut agar terlihat cool, tak lupa aku menyemprotkan cairan wangi ketubuhku. Ya, aku tau aku memang sudah terlihat keren tanpa hal- hal seperti itu, tapi aku tidak ingin terlihat kuno. Dan yang paling penting setelah selesai berdandan selama kurang lebih dua puluh menit, aku pun segera mengambil tasku yang sudah berisikan segala kejutan untuk dirinya. Jam sudah menunjukkan pukul 18.37, aku sudah berada disana selama 10 menit, aku terus melihat- lihat jam tanganku dan kesegala penjuru restoran itu berharap dia sudah datang. Jam sudah menunjukkan pukul 18.53. Akhirnya dia datang. Dia terlihat begitu cantik dengan rambutnya yang diurai dan dijepit pita dan dengan gaun kremnya. Aku begitu terpana sampai tidak sempat mengedipkan mataku.
“Hai Jef, ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang salah dari penampilanku? Lagipula tidak biasanya kau datang lebih dulu, kesambet apa kamu!” Katanya.
“Ehmm ehh, hai! Maaf aku hanya terpana melihatmu berpenampilan seperti itu, kau begitu cantik!” Kataku.
“Apa maksudmu seperti itu? Kau berusaha meledekku ya.” Katanya sambil memukul bahuku.
“Ahh tidak.. aku serius kok. Kau ini selalu saja memukulku jika aku memujimu sedikit saja.” Balasku.
Setelah berdebat cukup lama, kami pun memulai makan malam kami. Segalanya sudah kusiapkan dengan sempurna. Suasana restoran dan meja yang kami pesan itu begitu romantis, aku bahkan hampir jatuh dalam khayalanku lagi. Bunyi biola, para penari yang menari begitu indah diatas panggung, air mancur yang indah disamping meja tempat kami duduk, dan ditambah dengan hidangan makan malam kami yang menggoda. Aku sendiri pun tidak menyangka sudah menyiapkan semua ini dengan begitu sempurna. Hanya satu yang kurang, yaitu perasaanku yang belum sampai padanya. Aku pun sudah siap untuk memulai kejutan yang kusiapkan.
Setelah berdebat cukup lama, kami pun memulai makan malam kami. Segalanya sudah kusiapkan dengan sempurna. Suasana restoran dan meja yang kami pesan itu begitu romantis, aku bahkan hampir jatuh dalam khayalanku lagi. Bunyi biola, para penari yang menari begitu indah diatas panggung, air mancur yang indah disamping meja tempat kami duduk, dan ditambah dengan hidangan makan malam kami yang menggoda. Aku sendiri pun tidak menyangka sudah menyiapkan semua ini dengan begitu sempurna. Hanya satu yang kurang, yaitu perasaanku yang belum sampai padanya. Aku pun sudah siap untuk memulai kejutan yang kusiapkan.
“Ren, gue ke toilet dulu bentar ya, kebelet pipis nih.” Kataku.
“Ya udah pergi sana!” Balasnya.
Aku pun pergi dari sana dan segera menuju ke tempat teman- teman yang sedang menungguku.
“Gimana Jef, udah siap belum surprisenya?” Kata salah satu temanku.
“Iya nih Jef, kita udah suntuk nungguin lo dari tadi.” Kata temanku yang lain.
“Iya-iya udah siap kok, ayo cepat jangan sampai gagal.” Kataku.
Lalu tiga orang temanku pun berjalan kearah meja yang diduduki Kharen dan berpura- pura tidak melihatnya.
“Ehh Desi? Lo kok ada disini?” Katanya.
“Ehh Kharen, kita kesini cuma pengen makan malam kok, lalu lo ngapain disini? Kencan?” Kata Desi.
“Ya nggak lah, gue kesini sama Jefry buat makan malam doang sekaligus ngerayain ulang tahun gue” katanya.
Lalu ketika Kharen sibuk berbincang dengan temannya, aku bersama rombongan pun datang secara diam-diam kearah mereka. Kemudian mereka secara bersamaan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Aku memberikan kue ulang tahun yang sudah dipasangi dengan lilin yang indah kepada Kharen. Dia terlihat begitu senang sampai menangis bahagia. Sudah lama aku tidak melihatnya sebahagia ini. Kemudian Kharen pun meniup lilinnya dan bertepuk tangan dengan nyaring. “Terima kasih atas surprisenya ya guys, gue senang banget,” ucap Kharen dengan bahagia.
Aku pun memberikan Kharen hadiah yang sudah kusiapkan untuknya. Kemudian aku menarik salah satu lengannya dan menyatakan perasaanku padanya.
“Ren, gue udah lama pengen bilang ini ke lo tapi nggak bisa, sebenarnya gue suka sama lo ren. Lo mau gak jadi pacar gue?”
“Hmm.. sorry Jef, gue gak maksud buat nolak lo, tapi maaf gue gak bisa jadi pacar lo.”
“Tapi kenapa Ren? Memangnya gue salah apa sama lo?”
“Lo nggak salah apa- apa Jef, tapi takdir yang salah.”
“Apa maksudmu Ren?”
Dia langsung pergi tanpa menjawabku. Aku berdiri terdiam disana selama beberapa menit. Semua orang menatap kearah ku. Lalu aku pun berlari mengejarnya. Hatiku sungguh sakit mengingat kejadian tadi. Hatiku sakit bukan karena ditolak, tapi aku memikirkan kenyataan bahwa persahabatan kami akan hancur karena cintaku padanya. Mendadak jantungku terasa seperti berhenti berdetak. Meskipun cuaca saat ini begitu bersahabat, aku merasakan hujan disertai badai melanda hatiku saat ini. Aku pun berpikir bahwa hujan dalam hatiku lah yang memisahkan kami.
***
Keesokan harinya aku ke sekolah dan mendengar kabar bahwa Kharen tidak masuk sekolah hari ini. Pulang sekolah, aku langsung bergegas menuju rumahnya. Tapi pengurus rumahnya bilang bahwa dia sedang di rumah sakit saat ini. Hatiku pun semakin tak tenang. Aku menuju rumah sakit dan melihat keluarga Kharen sedang menangis terisak-isak disana.
“Ada apa Om? Apa yang terjadi? Apa Kharen baik- baik saja? Dimana dia?” Tanyaku.
“Kharen sudah tiada nak.” Jawab Ayah Kharen dengan terisak.
“Apa? Om nggak lagi bercanda kan?”
“Tentu saja om serius nak. Memangnya dia tidak pernah cerita padamu bahwa dia mengidap leukemia dan waktunya tinggal sebulan lagi?”
Kakiku mendadak lemas dan aku jatuh berlutut di tempatku saat ini. Dalam pikiranku aku berharap bahwa yang kudengar itu tidaklah benar, bahwa aku hanyalah bermimpi buruk.
***
Sebulan sudah berlalu sejak kematian Kharen. Hari ini aku pergi ke makamnya dan disana aku bertemu dengan orang tuanya. Ibunya memberikanku sepucuk surat yang ditulis Kharen sebelum meninggal untukku. Ibunya bilang bahwa Kharen berpesan untuk memberikan surat itu sebulan setelah ketiadaannya. Aku pun membuka surat itu dan membacanya kata demi kata.
Untuk Jefry,
"Ketika kau membuka surat ini, itu artinya aku sudah tidak ada lagi didunia dan disisimu. Begitu banyak yang ingin kukatakan padamu, tapi aku sadar waktuku sudah dekat hingga aku tak akan bisa berpanjang lebar lagi. Aku hanya ingin berterima kasih atas hadiah dan kejutan yang kau berikan untukku di hari ulang tahun terakhirku. Dan mengenai pernyataan perasaanmu saat itu, aku tidak bermaksud menyakitimu. Bukannya aku tidak menyukaimu, tapi aku tidak ingin membuat mu terluka lebih dalam karena perasaan mu itu. Aku pernah bermimpi untuk hidup bersamamu hingga nafas terakhirku, tapi takdir tidak bisa ku ubah, semua sudah direncanakan Yang Maha Kuasa. Kita memang tidak pernah tahu rencana Tuhan, kita tidak tahu kapan kita akan meninggalkan dunia, kapan kita akan mendapat jodoh, kapan kita akan terlahir kembali, kita tidak tau mengapa kita dilahirkan dan mati, tapi aku hanya tau satu hal bahwa. Aku Mencintaimu Jefry." –Kharen
Setelah membaca surat itu, aku pun sadar bukan hujan yang memisahkan kita, melainkan takdirlah yang memisahkan kita.
Post Comment
0 komentar: